PROPOSAL KEPADA TUHAN UNTUK NEGERI
Malam terasa
begitu tenang, sesekali bahkan terdengar suara jangkrik atau burung kedasih
yang hadirkan nuansa kelam. Detak jarum jam terdengar pelan memenuhi ruang
keluarga. Seorang perempuan paruh baya terlihat asyik menulis, jemarinya tak
henti menekan tuts keyboard sambil sesekali ia memeriksa kembali tiap kalimat
yang sudah ditulisnya. Sementara itu, dari sebuah kursi kecil yang tak begitu
jauh dari tempat perempuan paruh baya itu menulis, tampak gadis kecil yang setia
menemaninya. Gadis yang terlihat sudah mulai mengantuk itu sesekali melirik
pada perempuan yang masih asyik menulis itu.
Nurani, nama
gadis kecil yang terus memerhatikan Ibunya yang sedang menulis itu. Meski sudah
lanjut usia, namun masih terlihat aura kecantikan dari wajah ibunya. Sebagai
anak, Nurani begitu bangga terhadap Ibunya. Masih teringat jelas bagaimana perjuangan
Ibunya yang tak pernah mengenal lelah untuk menghidupi anak-anak kandungnya dan
juga beberapa anak asuhnya.
“Bu, hari sudah
semakin larut, nanti Ibu sakit lagi,” bisik Nurani datar meski ada nada
khawatir sambil meletakkan sebuah buku yang sedari tadi dibacanya. Ia kemudian
melangkah menuju ke arah Ibunya.
“Tidak, Nur,
malam ini Ibu harus menyelesaikan tulisan ini karena Ibu tidak mau semuanya
terlambat, apalagi usia Ibu semakin tua. Bagaimana jika Ibu keburu dipanggil
Sang Kuasa?” lirih Pertiwi, ibunya yang masih saja terus menekan tuts-tuts
keyboard itu.
“Ibu, jangan
bicara seperti itu. Nur sayang Ibu, Nur
yakin Ibu pasti baik-baik saja dan panjang umur. Tapi Ibu juga harus
menjaga kondisi ibu, istirahatlah nanti subuh bisa dilanjutkan lagi tulisannya,”
ucap Nurani sambil membelai punggung Ibunya dengan penuh kasih.
Tak terasa air
mata Nurani menitik, batinnya berkecamuk, menyadari bahwa ia belum bisa
membahagiakan ataupun mewujudkan impian Ibunya. Ia tahu kalau ibunya memang
memiliki cita-cita yang sangat mulia dan selalu berusaha mewujudkannya lewat
usaha dan kerja keras. Ia lalu mengusap airmatanya agar ibunya tak merasa
sedih. Tiba-tiba batin Nurani terusik oleh apa yang ditulis ibunya, dengan rasa
ingin tahu yang mendalam, Nurani membuka lembar demi lembar kertas yang
menumpuk di hadapan pertiwi, walau ditulis tangan, namun begitu rapi
sekali.
“Ibu menulis
apa? Ini kok seperti proposal? Untuk apa Bu?” berondong Nurani yang sangat
ingin tahu.
Pertiwi
tersenyum penuh keyakinan, kemudian raut wajahnya terlihat sumringah, ”Ini
memang proposal Nur, isinya tentang harapan Ibu, mimpi-mimpi kita Nur, Ibu
tujukan proposal ini untuk Tuhan.” jawab Ibunya.
Pertiwi memang
dikenal sangat peduli pada lingkungan, terutama pada anak-anak yang harus
kehilangan kasih sayang dari orangtuanya. Pertiwi ingin mendirikan bangunan
sekolah kokoh untuk belajar anak-anak
asuhnya. Namun di sisi lain, ada rasa getir yang sebenarnya hadir di batin
Nurani. Selama ini mereka justru tinggal sangat sederhana di rumah yang tak
begitu besar, kadang ia pun tahu ibunya harus meminjam uang pada tetangga untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Nurani sangat ingin bisa membantu dan membahagiakan
ibunya, apalagi jika ibunya harus terkapar sakit karena terlalu lelah bekerja.
“Apa Tuhan akan
mengabulkan proposal itu, Bu?” tanya Nurani dengan rasa tak percaya.
“Yakinlah Nur,
yakin akan kebesaran Tuhan. Tuhan Maha Pemberi Nikmat, Ibu yakin dan
seyakin-yakinnya, seperti keyakinan Ustad Yusuf Mansur yang membawakan acara Wisata Hati, Ibu
terinspirasi oleh Beliau. Insya Allah, impian kita akan terwujud, Nur.” senyum
Pertiwi kembali mengembang. Ia kemudian mengusap rambut Nurani dengan lembut,
setiap kali ia merasa rapuh, Nuranilah yang akan menjadi semangatnya.
Sesaat pikirannya
melayang, terbayang rentetan peristiwa yang dialami, saat ia jatuh sakit dan
harus diopname selama 8 hari di Rumah sakit ternama di kawasan Tangerang
Selatan. Bagaimana ia sekuat tenaga berusaha sembuh agar bisa pulang, saat
sakit pun otaknya harus diputar ke mana cari uang untuk membayar tagihan Rumah
Sakit yang mencapai 13 juta rupiah.
Akhirnya Pertiwi
harus mengikhlaskan uang tabungan yang sedianya untuk membayar kontrakan rumah
selama setahun kedepan, itu pun masih harus pinjam kekurangan lagi, jika tidak
jarum infus yang ada di tangan tidak dibuka oleh perawatnya. Dalihnya kalau
Pertiwi sudah melunasi tagihan Rumah Sakit, barulah jarum infus dilepas. Pertiwi
hanya bisa pasrah, “Lalu bagaimana jika keluarga yang benar-benar miskin lalu
jatuh sakit? Apa mereka harus menahan rasa sakitnya seumur hidup? Masya Allah!”
Pertiwi mengeleng-gelengkan jika mengingat apa yang dialaminya di Rumah Sakit
itu.
Tapi walau begitu,
Pertiwi merasa bersyukur karena bisa pulang lagi ke rumah, tak peduli tumor
yang bersarang di perutnya belum dioperasi, kalaupun dioperasi berapa lagi
biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai semuanya? Pertiwi menghela nafas
panjang, dalam doanya ia selalu memohon diberikan kekuatan dan kesehatan
jasmani maupun rohani, tak peduli
penyakitnya belum dioperasi, ia
menganggapnya sebagai hadiah terindah dari Tuhan.
Yang membuat
Pertiwi begitu prihatin akan Negara ini, bukan hanya itu saja, namun ada banyak
hal yang selalu mengganjal, menghantui pikirannya, yang membuatnya tak pernah
tenang setiap hari. Mulai dari kebutuhan anak-anak sekolah yang luar biasa
mahalnya, keperluan sekolah yang tak terduga, SPP dan lain-lainnya yang tak
bisa diganggu gugat lagi. Hal ini pula yang membuatnya mau melakukan apa saja
untuk memperoleh uang. Dari kuli rumah tangga, berjualan nasi, membuat pesanan
kue, menjadi buruh memasak dan lain-lain. Mau bekerja kantoran ya tidak bisa
pikir Pertiwi, toh ia tak pernah merasakan bangku sekolah.
Ingin rasanya
buka usaha, tapi modal sulit didapat, pinjam pada Bank banyak persyaratannya
yang tak mungkin bisa dipenuhi. Pertiwi sadar, ia hanya orang biasa. Yang tak
mampu berbuat apa-apa dan hanya mengandalkan kebisaan untuk terus melangsungkan
kehidupan yang kian laju berjalan. Sering terlintas dipikirannya, Indonesia
Negara kaya, namun kesejahteraan
masyarakat sama sekali tidak terjamin. Masyarakat tidak butuh berapa
besar pendapatan perkapita negaranya, tapi masyarakat butuh kesejahteraan yang
nyata. Pendapatan perkapita hanya untuk menutupi kemiskinan yang ada di negara.
Semakin miris,
bagai disayat sembilu bila Pertiwi mengingat itu semua. Tiba-tiba Pertiwi
tersentak kaget karena Nurani mengecup keningnya sambil berseloroh, “Hayo, Ibu
kok jadi bengong aja sih? Kadang senyum-senyum sendiri, kadang geleng kepala,
berkerut keningnya ataupun menghela nafas panjang. Ibu kenapa, Bu?” senyum
Nurani mengembang pada Ibunya, ia juga menatap ibunya penuh hangat.
“Kita berdoa
saja Nur, semoga proposal yang Ibu buat ini terkabul. Ibu meminta pada Tuhan
uang senilai 1 milyar, untuk mewujudkan cita-cita kita mendirikan sekolah
gratis dengan beragam fasilitas belajar, membeli tanah, halaman dan rumah yang
luas ini untuk kepentingan anak-anak asuh kita, dan masih banyak lagi Nur,”
wajah Pertiwi begitu sumringah saat menjelaskan apa yang sedang ditulisnya itu.
“Tuhan sayang pada kita semua, Nur” lanjut Pertiwi.
“Aamiin, semoga
Tuhan langsung kabulkan niat tulus Ibu. Nurani jadi ingat kejadian bulan lalu,
Nurani bangga punya ibu yang hebat!” ucap Nurani. Mendengarkan ucapan Nurani,
Pertiwi pun sekilas teringat kejadian bulan
sebelumnya, tepatnya saat mengadakan acara 17 Agustusan HUT RI ke 69.
“Ibu juga bangga
punya anak sepertimu,” balas Pertiwi.
Nurani masih
mengingat jelas, dengan semangat berapi-api ibunya memulai berpidato layaknya
seorang pemimpin di depan mimbar upacara resmi meski sebenarnya hanya berupa
teras yang disulap jadi panggung. Murid-muridnya yang notabene anak-anak
jalanan dan anak dari keluarga tidak mampu, terlihat begitu antusias
mendengarkan apa yang disampaikan ibunya. Selesai sesi acara lomba, datang
serombongan anak muridnya, mereka membawa spanduk kecil dari kain yang
seadanya, dan berbagai pamplet dari kardus bekas mi instan.
AKU TIDAK BANGGA
JADI ANAK INDONESIA!
AKU MALU JADI
ANAK INDONESIA!
KAMI BUKAN
PEWARIS BANGSA BOBROK INI!
Demikian antara
lain bunyi pernyataan mereka yang sempat diingat Nurani. Saat itu ia sendiri
merasa khawatir pada Ibunya, ia takut mereka akan menyakiti Ibunya. Namun
Nurani melihat sendiri bagaimana ibunya sangat tenang menghadapi beberapa
muridnya yang entah kenapa bersikap kritis seperti itu. Nurani juga duduk di
samping ibunya ketika ibunya berbincang dengan anak-anak remaja jalanan yang
membawa spanduk itu. Mereka diijinkan bebas mengeluarkan pendapat mereka menyatakan mengapa mereka tidak bangga
menjadi anak Indonesia? Mengapa harus malu jadi anak Indonesia dan mengapa mereka
tidak bersedia menjadi ahli waris bangsa yang kaya ini?
Diberondong
dengan pertanyaan itu, para murid menjawab dengan memberondong pula ditambah
dengan emosi anak muda yang agak meluap-luap. Beberapa kali Nurani sempat
merasa takut, namun Ibunya tetap bersikap tenang dan tidak emosi. Setelah puas
mengeluarkan suara hati mereka, anak-anak itu ganti terdiam ketika ibunya
berbicara dengan suara pelan namun cukup tegas.
“Anak-anakku,
Ibu bersyukur kalian masih mempunyai
matahari yang jernih. Melihat sisi kehidupan bangsa ini dari sisi kalian. Ibu
memaklumi rasa malu kalian, ibupun sebenarnya ikut malu karena secara sadar
ataupun tidak telah menjadi bagian dari orang-orang yang telah mewarisi
sifat-sifat dan karakter bangsa yang jelek ini. Tapi, akan lebih malu sekiranya
kita pun terus berperilaku malas dan tak mau bekerja keras, tak mau belajar,
atau berusaha mewujudkan impian.”
Ya, kata-kata
itu sepertinya mampu membuat anak-anak remaja jalanan itu memiliki semangat
baru. Mereka bahkan tersenyum sambil menganggukkan kepala, beberapa anak hanya
mampu tertunduk.
“Lah, kenapa
sekarang gantian kamu yang bengong nak?” ucap Pertiwi membuyarkan lamunan
Nurani.
“Hihihi..iya Bu,
Nurani mengingat kejadian Agustusan kemarin. Nurani makin bangga punya ibu..”
Nurani segera memeluk ibunya dengan erat.
“Sekarang, kau
tidurlah. Esok harus berangkat sekolah kan? Adikmu sudah tidur?”
“Iya, dia sudah
tidur. Tapi ibu juga harus istirahat, Nurani ingin ibu terus sehat agar impian
ibu pun terwujud,” ujar Nurani setengah merengek pada Ibunya.
“Baiklah, Ibu
temani kamu tidur,” jawab Pertiwi sambil merapikan beberapa buku yang ia
jadikan panduan untuk membuat proposal dibantu oleh Nurani. Mereka pun masuk ke
dalam kamar. Adiknya Nurani tampak sudah lelap dalam tidurnya. Pertiwi lalu menyelimuti
Nurani yang memang sudah terlihat sangat mengantuk, lalu menemaninya tidur.
Setelah anaknya
lelap, Pertiwi kembali bangun perlahan dari tempat tidur. Kakinya terasa sakit
untuk berjalan karena memang ia belum sembuh benar dari sakitnya. Ia melangkah
pelan lalu menutup pintu kamar. Pertiwi kembali menyalakan komputernya lalu
melanjutkan membuat proposal. Dalam hatinya, ia sendiri hanya bisa bermunajat
kepada Tuhan agar kelak anaknya bisa hidup nyaman di negeri yang sedang
menentukan kembali arahnya.
Airmata keluar
dari sudut-sudut matanya, menetes membasahi pipinya yang mulai berkerut disapu
takdir. Ulu hatinya terasa sangat sakit, Pertiwi pun hanya bisa tertunduk
sambil memegangi perutnya yang serasa dililit dan dicengkeram kuat. Ia harus
bertahan, tumor itu tak akan dibiarkannya menang, setidaknya hingga ia yakin
proposalnya diterima dan dikabulkan Tuhan.
“Tuhan, jangan
kau azab negeri yang indah ini, jangan kau beri azabmu, Tuhan..”
Gemuruh Langit
Pamulang
NAS April 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar